Hallo kawan, kembali lagi dengan saye penyiar jari cerite blog.
Yuhuuuu... kali ini saye akan membahas tentang kekinian yang menjadi mainstream. Walaupun sebenarnya saye tidak tahu ape itu mainstream dan ape hubungan nya dengan kekinian. Namun menurut sumber yang saye liat, baik itu dari sosial media atau perbincangan kawula muda tentang mainstream adalah sesuatu hal yang latah atau ikut-ikutan.
Misalnya gini, ketika teman kita membeli sepeda motor merek A dan seketika itu banyak teman-teman ikutan membeli sepeda motor A, seketika itu juga kita ikutan-ikutan membujuk atau merayu orang tua untuk segera membelikan kita sepeda motor, tidak perduli seberapa mahal harganya dan seberapa penting kepentingan sepeda motor itu untuk kita, terlebih umur kita yang masih belia atau belum cukup umur, yang penting di otak kita adalah gaul dan kekikinian.
Jadi kesimpulan yang saye dapat dari cerite di atas adalah orang berlomba-lomba mendapatkan pengakuan secara sosial untuk dicap gaul atau kekinian tanpa memperhitungkan kepentingan dan resiko dalam proses menggapai status kekinian tersebut, sehingga orang tersebut layak dikatakan type orang yang mainstream.
Baca Juga: Ikhtisar Kerinduan Hati
Akan tetapi apa benar tulisan mainstream seperti itu? Hahahah. Saye juga tidak tahu dan tidak mau tahu. Cukuplah kita mengimbangi pemahaman yang kita dapat tanpa memperhitungkan apa pengertian tersebut secara harafiah.
Bagaimana? Apakah cerite di atas sudah mewakili sifat kekinian yang menjadi mainstream.
Semoga bagi anda dan anda yang membaca cerite diblog ini dapat paham, dan bisa memetik intisari dan pesan moral cerita ini.
Ya beginilah saya yang hanya bermodalkan pemahaman singkat dan nyali sebesar biji sesawi dalam menuliskan unag-unag saya dalam menanggapi gaya hidup dewasa ini.
Prihatin bercampur haru.
Sekian cerite kali ini, kurang dan lebihnye saye minta maaf.
Sekian terima kasih.
0 komentar:
Posting Komentar